Director: Quentin Tarantino
Casts: Uma Thurman, Bruce Willys, John Travolta, Samuel L. Jackson

O-mai-gad. have you watched Pulp Fiction?
It is another masterpiece from Quentin Tarantino, and I have no words to say. Tapi kan ya mau posting tentang itu jadi ya gua tulis aja deh..
Guys, Quentin Tarantino itu director sekaligus produser jenius banget menurut gua. And he is still young and cute! Aww.
Awalnya gua nonton Kill Bill dan langsung jatuh cinta. Agak terlambat sih, Kill Bill tuh keluar tahun 2003 dan gua baru nonton (vol 1 & 2) dan ngefans tahun 2011. Yaoloh kemana aje? Tapi kan there's always the first time in everything i do, hahahhaha baliknya kesitu lagi.
In this occassion, i am not going to share a review about Kill Bill. I am going to shout out the beauty of Pulp Fiction.
Gak beda jauh sama Kill Bill, Tarantino mengangkat tema pertikaian, balas dendam, loyality, dan kriminal dalam film Pulp Fiction. Jadi tuh ceritanya tentang sekelompok gangster yang, yaah..namanya juga gangster, kerjanya melakukan yang sebagaimana dilakukan oleh para gangster. Kalo ada musuh, ya dibunuh. Kalo terbukti berhianat, ya ditembak. Kalo disuruh apapun sama bos ya lakuin aja, kepala jadi kaki kaki jadi kepala. Manisnya film ini, sebanyak-banyaknya dosa lo sama institusi permafia-an (kok gak enak ya), jikalau lo tiba-tiba sama-sama dalam posisi lemah (either lo yang lemah atau anggota gangster yang lo hianatin juga lemah) karena ada pihak ketiga yang ambil keuntungan, lo akan dimaafkan dan diampuni juga dihormati apabila lo turut menyelamatkan nyawa anggota gangster yang bersangkutan.
Kok jadi ribet ya? Jadi gini deh, gue jelasin sesuai dengan scene paling menarik menurut gue ya.. adegan ketika Butch (Bruce Willys) nyelametin si bos gangster yang bernama Wallace (gak tau namanya siapa, orang kulit item yang berbadan besar yang main di film Green Miles itu. au ah lupa). Butch itu lagi dalam pelarian dan diuber-uber sama sekelompok gangster itu. Pas lagi heboh adu tembak yang sukses ngancurin satu kota, mereka tiba-tiba ditodong di bawah anceman pistol. Kebayang gak? Butch nodong pistol ke Marselus, trus ada cowok yang nodong pistol ke kepala Butch dan Marsellus. Dan memaksa Butch untuk melempar pistolnya. Trus cowok itu manggil polisi. Gak lama setelah itu Butch dan Marsellus pengsan (karena dipukul dengan senapan laras panjang di kepala) trus disekap di bawah tanah, daaaaaaan... datanglah seorang polisi yang kemudian diketahui bernama Zed. Disini paling jijik sih, karena instead of nangkep tu orang dua, si Zed malah memilih-milih salah seorang dari Butch dan Marsellus untuk dibawa ke sebuah ruangan. Dan terpilihlah si Marsellus. Abis itu?? Di sodomi aja dong... tai banget kan?
Butch sebenernya belom aman, nanti juga bakal tiba giliran dia. Tapi kan doi jagoan (dikisahkan dia adalah seorang fighter) jadi tali dan iket kepala yang mengikat badannya bisa lepas. Tapi terus pas dia akhirnya bisa kabur, dia diam sejenak. Dan memutuskan untuk menolong Marsellus, bos mafia gendut tadi, yang hampir aja ngebunuh dia di pertikaian sebelumnya. Abis itu? Si polisi ditembak pas di 'anu' nya dan case closed. Butch dimaafkan. Sweeet banget gaaaaak? Menurut gua itu sweet banget.
Satu dari sekian banyak hal yang gua pelajari dari film ini adalah even gangsters keep their words. Once they say they forgive you, then they mean it. You are forgiven. Forever! Asik ya?
Banyak lah nilai manhood, brotherhood, dan solidarity yang muncul di film ini. Bravooooo Tarantino!!
9,5 out of 10, I guess!
No comments:
Post a Comment